Loh, Tiba-Tiba Saya Kembali

Written by erzawansyah on 5 years ago

Loh, ada apa? Tiba-tiba saja keinginan menulis bebas kembali muncul. Kesadaran bisa lagi terisi dengan aktivitas kegemaran ini. Bila saja akhirnya tidak muncul lagi, mungkin sebuah nama pemberian kedua orang tua asal Minang (Ibu) dan Betawi (Ayah) ini tak lagi terungkap dalam dunia maya.

Bersyukur, tepat satu jam setelah hari ulang tahun ke-68 sebuah organisasi besar, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), jemari ingin lagi menari dalam sebuah layar terang yang beberapa bulan belakangan stagnan tanpa perkembangan. Motivasi yang lama terpendam, cukup sulit muncul lagi memenuhi kesadaran beraktivitas. Menulis, aktivitas yang tak semua orang sukai ini seakan menjadi tenaga sendiri untuk bertahan dari beratnya kelopak mata, tanda orang ngantuk.

Ada rasa bersalah juga, meninggalkan sebuah Kisah Mengajar dalam ketidakberdayaan. Pasti sang Kisah Mengajar rindu dijamah majikan. Lebih dari setengah tahun, blog berusia dua tahun ini menjadi pengangguran. Hanya dilihat sedikit orang, kemudian ditinggalkan, entah dibaca atau tidak. Seolah menjadi bunga yang tak dirawat oleh sang empunya. Waw, ini adalah sebuah fenomena, dimana waktu tak mungkin bisa melawan rasa malas dan lelah seorang anak Adam.

Barangkali memang ada kegelapan dalam sebuah kehidupan. Tinggal bagaimana kegelapan itu diartikan. Ataukah kegelapan ini ada karena hakikatnya kegelapan ini ada, ataukah kegelapan itu sendiri ada karena ketiadaan cahaya? Sulit untuk menjawab pertanyaan filosofis seperti ini, apalagi bagi seseorang yang lama tak berkutat dengan pengetahuan, demi meraup sepeser rupiah yang bisa membuatnya bangga.

Berangkat dari kesadaran inilah, akhirnya diputuskan kalau pengetahuan harus kembali digali. Tulisan ini adalah janji sang empunya, kepada dirinya sendiri. Pengetahuan, akan kembali muncul dan muncul, bila anak Adam itu sendiri menggunakan kemerdekaan individunya untuk mengambil cangkul dan menyangkul tanah lebih dalam, lebih dalam dan lebih dalam dari sebelumnya.

Sang empunya sendiri memiliki pemikiran besar, kalau menulis bukanlah sekadar kegiatan eksport, mengeluarkan segenap isi hati, akal dan nurani dalam sebuah deretan kata. Sang empunya berpikir, menulis adalah jalan untuk mensugesti diri sendiri, bagaimana cara manusia menjadi lebih berarti dengan terus memperluas wawasan, serta memperdalam pengetahuan.

Oh, Tuhan, tolong bantu sang empunya ini untuk beristiqamah. Karena saya, sang empunya ini, mulai merasa bosan dan rendah dengan keadaan tanpa kemajuan ini. Semakin kabur dari prinsip dan takut kenyataan. “Inilah saatnya saya bangkit, inilah saatnya saya menunjukkan kalau saya bisa berkarya, meski dengan komposisi kata yang sederhana,” gumam saya dalam hati sendiri.

© 2020 - All Right Reserved | Muhamad Erza Wansyah