Di Balik Tempat Ini, Ada Gumaman

Written by erzawansyah on 6 years ago

Mulanya, saya kira tempat ini jauh dari gesekan batin. Lahan yang akan bimbing hati nurani sampai pada tempat nya. Lama-lama saya rasa, ternyata tiada tempat seindah itu. Tiada tempat berteduh yang bisa hindari air hujan. Setiap tempat pasti kena cipratannya. Dindingnya tak tebal, partikelnya tak rapat. Tempat ini begitu rentan dimasuki rayap.

Bila saya manusia luar biasa, bisa saja tubuhku kebal dari gigitan rayap. Sayang, belum aku buktikan apakah sekeras itu kulit ini. Beruntung si rayap belum gerogoti dalam-dalam. Mereka hanya hinggap dan menggerayangi seluruh tubuh. Kadang resah, kadang gundah, kadang pula saya nikmati kegeliannya.

Kenapa harus resah? Banyak pula teman-teman lain seperti saya, bertahan dalam kenikmatan geli-geli dari rayap. Mereka yang punya rayap lebih banyak justru terlihat lebih nikmat. Mereka bisa menikmati hidupnya tanpa berpikir “siapa lagi bisa buat saya geli selain rayap?”.

Engkau harus terlihat menikmati hidup bila ingin makan. Tiada penjual ingin beri makan kepada manusia-manusia murung. Tidak hargai hidupnya, tidak pernah merasakan kenikmatan geli-geli rayap. Sibuk sendiri membersihkan rayap pada tubuhnya dan hidup sulit berteman dengan manusia-manusia senasib.

Zaman sudah berubah, dulu uang jadi indikator kekayaan. Karena dengan uang, semua bisa terbeli. Sekarang? Rayap jadi barang penghidupan. Siapa tidak miliki rayap gerayangan, dia tak miliki teman seperkawanan.

Dulu, saya berjuang untuk menolak uang sebagai satu-satunya indikator kesuksesan. Lebih dari itu, banyak aspek ternilai menjadi alat mencapai kepuasan. Sekarang uang tak lagi jadi standar, tapi mengapa saya tidak bisa juga menerimanya? Karena rayap gantinya.

Kenapa orang-orang ini begitu mengagungkan hewan kecil ini? Padahal, diamenggerogoti alam (re:kayu). Tiada beda rayap dengan illegal logging. Rayap gerogoti kayu agar kenyang, penebang liar memotong kayu untuk dijual, uangnya untuk makan agar kenyang. Rayap dan penebang liar sama-sama kenyang kayu.

Sekilas sudah selingannya, pikiran saya jadi terlalu kemana-mana.

Ya, di tempat ini rayap diberhalakan. Padahal, bila melihat manfaat dari tempat ini banyak sangat bila dimaksimalkan. Namun, rayap menggerogoti akal sehat, tidak, melainkan hati nurani. Bagi manusia-manusia berakal, tempat ini tepat untuk mengembangbiakkan rayap. Bagi si pemilik hati nurani, mengembangbiakan rayap membuat mereka lupa hajat hidup orang banyak.

Sebut saja tempat ini adalah M!

M punya pengaruh kuat mengubah perilaku masyarakat. Selain itu, tidak M juga punya andil besar (harusnya) untuk memerdekakan Indonesia dari kebodohan. Tapi apa, yang dicari M bukan lagi “menjadi bermanfaat untuk orang banyak”. Menjual sebanyak-banyaknya produk, lalu tarik investor rayap.

Dan? Yeaaah! Alhasil, M punya banyak rayap.

Sayang, aku harus berada di tempat ini karena tidak bisa lagi berpikir menjadi kreatif. Harusnya aku bisa buat sesuatu sebatas kemampuanku, tapi ada tantangan hidup yang lebih besar. Akhirnya, aku hanya bisa bergumam dalam tulisan, itu pun tak dipublikasikan.

Ini membuat hati bergejolak. Bergumam dalam tulisan saat berada dalam tekanan. Seolah tidak punya hasrat untuk berontak dan melawan. Saya hanya diam, dibungkam oleh zaman, terbatasi kemampuan, karena saya hanya wartawan bayaran.

© 2020 - All Right Reserved | Muhamad Erza Wansyah