Bermula dari Kisah

Written by erzawansyah on 6 years ago

Pukul 01:58. Jam digital di tampilan laptop saya menampilkan kombinasi angka ini. Lalu apa? Entah apa yang saya pikirkan saat ini. Sepertinya sebuah tugas akan terbengkalai nantinya. Bukan karena sayupan mata yang layu, naik turun seperti ombak pantai bergelombang. Atau, tidak juga seperti rambutnya dulu yang sekarang ia upayakan untuk selalu mengkerdilkan arti gelombang di tiap helai rambutnya.

Ini karena gelombang. Alur tulisanku akan sedikit melebar. Awalnya ingin cerita soal pengalaman baru. Pastinya menuju sebuah pemikiran baru pula, di mata saya, tidak di dalam pandangan matahari. Karena seperti seorang teman berujar, tak ada yang baru di bawah matahari.

Mulai dari menanyakan apa arti angka dalam tampilan jam digital, hingga menuju pembahasan akan gelombang. Sekarang bermuara pada tajuk pengalaman dan pemikiran. Kisah memang selalu mengajarkan, tapi mungkin dia akan melewati beragam jalan dan tantangan. Sampai suatu saat, dia akan menunjukkan jalan ke pintu kenikmatan mutlak.

Mutlak tidak akan tergapai manusia. Mutlak hanya mimpi palsu, pelarian rasa takut manusia bila kata Freud. Mutlak itu objektifitas tanpa bantahan, anti-falsifikasi. Tapi, mutlak itu tak mampu jadi niscaya dalam akal manusia, selama terikat ruang duniawi yang sementara. Atau pula ukhrawi yang setidaknya lebih lama dibanding ruang bumi, bila percaya logika Sang Maestro Agus Mustafa.

Mutlak hanya akan terjadi bila hilang semua apa yang diciptakan: Makhluk. Mutlak akan tiba bila semua tiada, nyata atau sebatas ide saja. Mutlak itu ketika kita terdiam, terangkum semua yang kita lakukan. Terjawab semua yang kita ragukan. Dan tersadar ketika cogito ergo sum tidak lagi menjadi penjelasan empiris dalam tatanan kemanusiaan. Mutlak ialah saat engkau tahu apa yang akan aku tulis setelah menyelesaikan paragraf ini, saat engkau tahu apa alasan masa lalu yang latar belakangi ini, dan ketika semua hilang dan kembali kita gantungkan pada hyang Mahapantas digantungi.

Membicarakan mutlak mengingatkanku sekian menit lalu, saat sebelumnya saya bicara soal kisah. Dorongan untuk mengisahkan ingatanku kembali menguat ketika diam dan ingin terpejam dilawan oleh ambisi yang tak terukur. Bukan karena tidak ada skala pengukurannya, melainkan ini menyoal ketidakmampuan manusia di atas keterbatasan dan ketergantungan.

Kisah ini menyoal sebuah penyelidikan diri ketika menghadapi tekanan realita. Tekanan dari mana? Dari hidup yang telah mencapai batas usia remaja. Empat tahun hampir mencoba mandiri, saat ini tidak lepas dari cobaan memandirikan diri secara utuh. Tidak semudah yang pernah terpikir sebelumnya. Perkembangan mental saya membuat diri ini tidak mampun untuk menerima kenyataan: “Hidup itu tak semudah idealismu!”

Engkau mungkin tak kenal diriku. Tapi bila kau pernah menjadi mahasiswa yang berteriak keadilan di belakang pengeras suara, kemudian mengerti rasanya jadi buruh pena yang hanya bisa mengekspresikan dirimu di balik layar komputer portabel, kau akan tahu, dunia itu kejam! Dibalik kekejaman, kau harus pilih: Hidup dalam kebahagiaan mimpi atau berdosa atas realita.

© 2020 - All Right Reserved | Muhamad Erza Wansyah